Gaple di Bawah Merah Putih

Lampung Selatan – Rabu itu, di sekretariat Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Perwakilan Lampung Selatan, aroma kopi hitam bercampur dengan suara ketukan keping gaple.

Pagi sudah bergeser menuju siang, tetapi suasana seperti enggan beranjak dari hangatnya kebersamaan. Puluhan wartawan—yang biasanya mengukur jarak dengan berita—kini duduk saling berhadapan, merangkai strategi di papan permainan. Pena disimpan, kamera diam di sudut meja; tangan-tangan mereka kini sibuk membaca peluang di balik angka-angka kecil pada kepingan domino.

HUT ke-80 Republik Indonesia menjadi alasan. Tapi sejatinya, ini adalah perayaan lain : perayaan akan persahabatan yang tak mengenal perbedaan media, jabatan, atau usia.

Sabda Fajar, Sekretaris PWI, tersenyum sambil menyebut ada dua kategori lomba perorangan dan beregu dengan sistem Porwanas terbuka dan tertutup.

“Hadiah sudah siap. Tapi yang terpenting, tawa dan cerita hari ini,” ujarnya.

Ketua PWI Perwakilan Lampung Selatan Supradianto, memandang perlombaan seperti memandang sebuah ruang temu.

“Ini ajang silaturahmi dan siapa tahu, dari sini kita temukan wakil Lampung untuk Porwanas,” ucapnya, suaranya mengalun di sela bunyi kepingan yang beradu.

Di luar, bendera merah putih berkibar di bawah langit yang cerah, menyaksikan para pewarta melepaskan sejenak beban berita yang kerap getir. Di dalam, gaple menjadi bahasa lain untuk mengatakan: kita sama, kita sebangsa, kita setawa. Dan di sela derai tawa itu, mungkin terselip sebuah kesadaran—bahwa kemerdekaan pun kadang lahir dari momen sederhana, ketika manusia memilih untuk duduk bersama, setara, dan bahagia.

(**)