LAMPUNG SELATAN, – Berbagai persoalan keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas) di Lampung Selatan dibahas dalam kegiatan Ngopi Mas (Ngobrol Pagi Kamtibmas) yang mempertemukan pemerintah daerah, kepolisian, unsur TNI, serta tokoh masyarakat dan tokoh adat.
Pertemuan yang digelar di Rupatama Raden Intan Polres Lampung Selatan, Kamis (3/9/2026), tidak hanya membahas gangguan keamanan seperti pencurian dengan pemberatan, pencurian dengan kekerasan dan pencurian kendaraan bermotor (C3), tetapi juga persoalan narkoba, konflik lahan hingga pengembangan pariwisata.
Kapolres Lampung Selatan AKBP Deddy Kurniawan mengatakan, menjaga keamanan bukan semata-mata menjadi tugas kepolisian. Menurut dia, kondisi kamtibmas membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat, termasuk pemerintah daerah dan tokoh masyarakat.
Ia mengatakan, Ngopi Mas menjadi ruang untuk menyerap aspirasi sekaligus mencari langkah bersama dalam menangani berbagai persoalan kamtibmas di Lampung Selatan.
“Ngopi Mas menjadi ruang untuk menyerap aspirasi dan pemikiran para tokoh masyarakat. Salah satu perhatian utama adalah menekan angka C3 yang masih menjadi persoalan di sejumlah wilayah Lampung Selatan,” kata Deddy.
Salah satu wilayah yang menjadi perhatian adalah Kecamatan Jati Agung. Camat Jati Agung menjelaskan, tingginya kasus C3 di wilayah tersebut tidak terlepas dari posisi Jati Agung yang berbatasan langsung dengan Kota Bandar Lampung serta tingginya mobilitas penduduk.
Selain itu, kawasan Jati Agung menjadi tempat tinggal bagi banyak mahasiswa Institut Teknologi Sumatera (ITERA). Dari sekitar 25.000 mahasiswa ITERA, sekitar 70 persen disebut tinggal atau menyewa tempat kos di wilayah sekitar Jati Agung.
Persoalan kamtibmas juga berkaitan dengan upaya pemerintah daerah mengembangkan potensi wilayah, termasuk sektor pariwisata. Bupati Lampung Selatan H. Radityo Egi Pratama mengatakan, potensi wisata dan keragaman budaya harus diikuti dengan rasa memiliki masyarakat terhadap daerahnya.
Menurut Egi, pengembangan pariwisata tidak dapat dipisahkan dari keamanan, kebersihan, dan keterlibatan masyarakat dalam menjaga lingkungan.
“Kalau kita ingin pariwisata berkembang, masyarakat harus merasa memiliki daerah ini,” kata Egi.
Sementara itu, Tokoh Adat Sai Batin Desa Tengkujuh, Pesisir, mengusulkan agar pemasangan kamera CCTV tidak hanya menyasar titik-titik rawan kejahatan, tetapi juga kawasan laut dan Dermaga Canti. Ia juga meminta peningkatan razia minuman keras dan narkoba serta mendorong pengembangan aktivitas wisata malam di Kalianda.
Tokoh masyarakat Marga Katibung juga menyatakan kesiapannya membantu menjaga kamtibmas di wilayahnya. Ia mendorong agar tokoh masyarakat dilibatkan dalam upaya pencegahan maupun penyelesaian persoalan yang muncul di tengah masyarakat.
Menanggapi berbagai masukan tersebut, Kapolres meminta jajarannya memperkuat patroli di lokasi rawan, termasuk melalui patroli gabungan. Selain itu, sistem keamanan lingkungan (siskamling) diminta kembali diaktifkan dan razia ditingkatkan sebagai langkah pencegahan tindak kejahatan. (*)


















